Oleh: ningsihnh | 7 Agustus 2012

Pasir dan Batu Ada dua orang pengembara

Pasir dan Batu

Ada dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah
melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya
ada pasir membentang.Jejak- jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang.
Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki.
Debu-debu pasir yang berterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.
Tiba-tiba badai datang. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara limbung
pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam
di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka
mencoba melawan ganasnya badai. Badai reda tapi musibah lain menimpa
mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya
tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara
itu duduk tercenung, menyesali kehilangan itu. “Ah.., tamatlah riwayat
kita,” kata seorang diantara mereka, kata pengembara pertama. Lalu ia
menulis di pasir dengan ujung jarinya. “Kami sedih. Kami kehilangan
bekal minuman kami di tempat ini.”

Kawannya, si pengembara kedua pun tanpak bingung. Namun, mencoba tabah.
Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan
perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase
di kejauhan. “kita selamat,” seru salah seorang di antara mereka.
“Lihat, ada air di sana.” Dengan sisa tenaga yang ada mereka berlari ke
oase itu. Untung, bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Kecil
tapi airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuas-puasnya dan
mengisi kantong air. Sambil beristirahat, pengembara pertama
mengeluarkan pisau dari genggamannya dan memahat pada sebuah batu. “Kami
bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.”
Itu kalimat yang dipahatnya.

Pengembara kedua heran. “Mengapa kini engkau menulis di atas batu,
sementara tadi kau menulis di pasir?”

Yang ditanya tersenyum. “Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua
itu di pasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan.
Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan
semuanya lenyap dan pupus,” jawabnya dengan bahasa cukup puitis. “Namun,
ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan. Pahatlah kemuliaan itu di batu
agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan
kesenangan itu di kerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya.
Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya
tersimpan.”Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum
telah di dapat, istirahat pun telah cukup, kini saatnya untuk
melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan
seringan air yang bertiup mengiringi.

Kawan, kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir. Berselang-seling mewarnai
perjalanan hidup kita. Keduanya mengguratkan memori di hamparan pikiran
dan hati kita. Namun, apakah kita seperti pengembara tadi yang mampu
menuliskan setiap kesedihan di pasir agar angin keikhlasan membawanya
pergi? Apakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap
kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan?

Kawan, cobalah untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagiaan
yang kita miliki. Simpanlah semua itu di dalam kekokohan hati kita agar
tak ada yang mampu menghapusnya. Torehkan kenangan bahagia itu agar tak
ada angin kesedihan yang mampu melenyapkannya. Insya Allah, dengan
begitu kita akan selalu optimistis dalam mengarungi panjangnya hidup
ini.

Man Jadda Wajada … (Siapa yang bersungguh – sungguh/berusaha pasti
diberikan jalan oleh – Nya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: