Oleh: ningsihnh | 28 Juli 2012

Just share … Nice to read … ——–

Just share …

Nice to read …

———— ——— ——— ——— ——— ——— –
———— ——— ——— ——— ——— ——— –
———— ——— ——— ——— —–

Suatu ketika ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain
itu, tinggal pula menantu dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan
orang tua ini begitu rapuh dan sering bergerak tak menentu. Penglihatan
kabur, cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di
ruang makan. Namun, si orang tua pikun itu sering mengacaukan segalanya.
Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk
menyantap makanan.

Sendok dan garpu kerap jatuh di bawah. Saat si kakek meraih gelas,
segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun
gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua itu. “Kita harus lakukan
sesuatu, ujar sang suami. “aku sudah bosan membereskan semuanya untuk
Pak Tua ini.”

Lalu, suami-istri itu membuat sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di
sana sang kakek akan duduk untuk makan sendirian dan semua menyantap
makanan. Mereka juga memberi mengkuk kayu kepada si kakek. Acapkali
keluarga itu makan malam, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada
air mata yang mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang
keluar dari mulut si suami-istri itu adalah omelan agar si kakek tidak
menjatuhkan makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi dan merekam semua peristiwa
itu dalam diam. Suatu malam sebelum tidur suami-istri itu mendapati anak
mereka sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut mereka menyapa anak
itu. “Kamu sedang membuat apa?” Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat
meja kayu untuk ayah dan ibu. Saat besar nanti akan kuletakkan di sudut
itu, dekat tempat kakek yang biasa makan.” Anak itu tersenyum dan
melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat suami-istri itu terpukul. Mereka tak mampu berkata
lagi. Airmata bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata
yang terucap, keduanya mengerti ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam
itu mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja
makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat piringnya yang jatuh atau
makanan tumpah menodai taplak meja. Kini, mereka bisa makan bersama lagi
di meja utama.

Teman, anak-anak adalah persepsi diri kita. Mata mereka akan selalu
mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan
selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika
kita melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula
yang akan dilakukan mereka saat dewasa kelak.

Orang tua yang bijak akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang
disusun adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak. Mari,
susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk masa depan kita, untuk
semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar bahwa berbuat
baik pada orang lain adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: