Oleh: ningsihnh | 11 Mei 2012

Awas, hipertensi itu the silent killer

Oleh Rahmayulis Saleh

Rabu, 09 Mei 2012 | 20:55 WIB

JAKARTA: Masih banyak masyarakat kurang paham dengan penyakit hipertensi. Misalnya bagaimana cara menghindarinya, atau cara mengelolanya bagi penderita. Padahal hipertensi merupakan the silent killer, karena umumnya terjadi tanpa gejala (asimptomatis) .

Di Indonesia, prevalensi hipertensi atau populasi yang terkena penyakit itu mencapai 31,7% dari total jumlah penduduk dewasa. Atau 3 dari 10 orang adalah penderita hipertensi.

“Angka itu cukup tinggi dan perlu diwaspadai,” kata Santoso Karo Karo, pakar kardiologi dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, hari ini, Rabu, 9 Mei 2012 dalam seminar bertema Waspada dan tetap sehat dengan hipertensi di Jakarta.

Dia mengatakan hipertensi berkaitan erat dengan penyakit gagal ginjal. Namun para penderitanya seringkali salah, bila beranggapan minum obat dapat memicu penyakit ginjal.

“Padahal obat-obatan itu justru menghindarkan penderita hipertensi dari gagal ginjal,” ungkap spesialis jantung ini di sela-sela seminar yang diadakan oleh PT Pfizer Indonesia, dalam rangkaian menyambut Hari Hipertensi Dunia pada 17 Mei.

Menurut dia, di dalam ginjal ada glomerolis yang berfungsi untuk menapis darah, sehingga racun dapat dikeluarkan, dan zat penting bisa ditahan atau diserap kembali.

“Dia punya pembuluh darah mikro yang mengalirkan darah. Bila tekanan darah tinggi, pembuluh darah ini bisa rusak sehingga tidak mampu untuk menapis. Kerusakan ini justru memicu tahanan perifer, yang bila rusak dapat mengeluarkan hormon yang membuat tekanan darah menjadi lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Karena itu, lanjutnya pasien harus tetap mengonsumsi obat untuk menurunkan tekanan darah, dan menjaga ginjal supaya tetap terjaga,” tambahnya.

Sementara itu Prof. Suhardjono, spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan menurunkan tekanan darah adalah salah satu cara mengurangi risiko kematian, dan penyakit penyerta hipertensi, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke.

Pengobatan terhadap hipertensi bukan sekadar menurunkan tekanan darah, tapi haruslah tetap komprehensif. “Tekanan darah yang turun sesuai target pengobatan, harus dikontrol agar tetap stabil. Namun bila tekanan darah sudah turun, bukan berarti penderita sembuh dari hipertensi,” ujarnya.

Ancaman terhadap penyakit ini tetap ada. Bila obat dihentikan, maka tekanan darah akan kembali naik.

Untuk menghindari tekanan darah tinggi, ujarnya, gaya hidup sehat perlu dilakukan. Seperti olahraga teratur, tidak merokok, dan konsumsi makanan sehat. Pengobatan yang bisa dilakukan antara lain mengontrol seluruh faktor risikonya, selain menurunkan tekanan darah.

“Kadar kolesterol, gula darah, mengelola stres, tidak makan berlebihan tetap harus dilakukan. Jika sudah terkena hipertensi, yang terpenting adalah obat harus minum terus menerus, sesuai anjuran dokter, dan terus periksa ke dokter secara teratur,” ujar Suhardjono.( msb)

source : milis dokter

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: