Oleh: ningsihnh | 29 Maret 2012

Karena kami burung

Karena Kami Burung
Karya : Sujud Kabisat

Karena kami burung. Kami selalu terbang bersama-sama mengikuti arah mata angin. Mulai daerah kutub bagian paling utara, barat, timur, sampai selatan, kiranya semua sudah pernah kami kunjungi. Kami sering bercumbu rayu melepas lelah—untuk sementara kami singgah sembari istirah mengumpulkan galah. Mendirikan pilar-pilar penyangga. Membangun sebuah bilik kecil dengan hiasan manik-manik jiwa. “Lihatlah saudara, kawasan ini kami namakan sabang merauke” kata saudara kami dari barat. Terus saudara kami dari utara menjulukinya dengan nama sejuta anak pulau. Saudara kami satunya lagi dari selatan memberi nama bhinneka tunggal ika. Kemudian saudara kami yang baru datang dari timur mengasih jabatan dengan titel Raden Mas “Indonesia” gemah ripah loh jinawi.

Karena kami burung. Kamipun selalu terbang bersama-sama menenteng beragam ideologi. Asalkan satu misi dan satu visi, tidak ada bedanya bagi kami. Kami sering terbang bersama-sama dari ranting satu ke ranting yang lain. Hinggap dari suku satu ke suku yang lain. Dari budaya satu ke budaya yang lainnya pula. Dan jujur saja, dengan segala kerendahan hati yang paling dalam kami akui, kadang di antara kami masih kesulitan bisa berkomunikasi dengan gamblang. Lantaran adat istiadat kami berbeda. Agama, lidah, serta warna sayap kamipun juga berbeda. Ada saudara kami yang datang dari pelosok desa hanya telanjang dada mengenakan koteka. Ada juga saudara kami yang berada di kota metropolitan sudah mengenakan model baju dan celana funky ala eropa. Kadang ada perasaan was-was pada diri kami kalau terjadi salah paham. Hanya karena masalah sepele kurang seragam menafsirkan rasa garam.

Karena kami burung. Sukurlah semua permasalahan bisa kami atasi dengan isarat bahasa burung. Sampai pada ahirnya kami semua sepakat. Bahwa kami semua hanya butuh pengayoman. Kami semua hanya butuh kedamaian. Kami semua hanya butuh kebebasan. Itu yang paling penting. Kami semua juga sepakat kalau bahasa nasional yang sekarang kami gunakan adalah bahasa burung. Budaya yang kami gunakan sekarang juga budaya burung. Karena kami semua hamba burung. Kami ingin bebas menabuh genderang sekeras mungkin di sepanjang bayang-bayang pagi, siang sore, dan malam. Kami juga ingin bebas menebarkan taburan wangi kembang ke tempat di mana nantinya kami sekeluarga bisa tidur dan bersemayam dengan tenang. Kami tidak ingin lagi mendengar suara bising dar-der-dor peluru senapan, dentuman bunyi meriam, suara rintihan kesakitan saudara kami yang menderita kelaparan, kecolongan sarang, kehilangan keluarga maupun sanak saudara hanya karena salah sasaran aparat keamanan melesatkan peluru senapan dengan garang. Tanpa memperdulikan arah kicauan teman atau lawan.

Karena kami burung. Hidup kamipun menggantung. Terbang kamipun membumbung. Suara kamipun mendengung. Tapi jangan salah sangka kami tidak punya ideologi. Suara kami jujur dari hati. Tulus tanpa dipaksa. Rela tanpa direkayasa. Karena kami bisa meraba ke mana datang dan perginya warna suara, kami bisa mendengar arah mata angin, membaca gerak-gerik awan—yang tiba-tiba saja timbul tenggelam—datang dan pergi tanpa pamitan. Selama

berpuluh-puluh tahun kami sudah sering terbang membumbung tinggi, hingga menjadikan hidup kami yang penuh misteri dan teka-teki ini lebih terfahami—Bahwasanya tidak ada sesuatu yang lahir dari ketiadaan. Mustahil yang ada lahir dari kehampaan. Dengan kata lain mesti ada sesuatu di balik yang ada. Yakni Tuhan. Dan kesemuanya itu tidak bisa kami pungkiri :Bahwa “Agama ageming ati.”

Karena kami burung. Bagi kami hidup ini sebuah transformasi permenungan dari ritus perjalanan yang sangat panjang. Maka ijinkan kami terbang melanglang setinggi mungkin. Bernyanyi, tertawa, menangis, berteriak, menjerit, berdo’a, dan bersembunyi sampai ke semak belukar pusaran awan. Hingga ahirnya kami semua benar-benar menjelma jadi maha malam. Diam. Tenggelam. Hingga memahami makna hitam. Di cakrawala keheningan paling dalam.

Karena kami burung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: